cari

Diberdayakan oleh Blogger.

UM the learning of univerty

Cari

RSS

materi kuliah divusi inovasi



KECEPATAN PENGADOPSIAN INOVASI

Adopsi dalam proses penyuluhan pada hakekatnya dapat diartikan sebagai proses
perubahan perilaku lain yang berupa: pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun
ketrampilan (psycho-motoric) pada diri seseorang setelah menerima “inovasi“ yang
disampaikan penyuluh oleh masyarakat sasarannya. Penerimaan inovasi tersebut, bisaanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain, sebagai cerminan dari adanya perubahan: sikap, pengetahuan dan atau ketrampilannya (Mardikanto, 1996: 104).
Inovasi adalah sebuah proses pembaruan dalam unsur kebudayaan masyarakat, yakni teknologi. Inovasi berarti penemuan baru dalam teknologi manusia. Sifat-sifat kecepatan adopsi inovasi adalah sebagai berikut :

1.       Keuntungan – keuntungan relatif (relative advantages),  yaitu apakah cara – cara atau gagasan baru ini memberikan sesuatu keuntungan relatif bagi mereka yang kelak menerimanya. Hal ini digunakan oleh si inovator untuk menciptakan ide atau bentuk inovasi nyata degan memikirkan apakah inovasi yang diciptakan berguna secara berkala yang dapat terus berlanjut bagi masyarakat dalam menggunakannya.
2.       Keserasian (compatibility); yaitu apakah inovasi yang hendak di difusikan itu serasi dengan nilai – nilai, sistem kepercayaan, gagasan yang lebih dahulu diperkenalkan sebelumnya, kebutuhan, selera, adat – istiadat dan sebagainya dari masyarakat yang bersangkutan. Sebuah inovasi yang diciptakan tidak serta merta diciptakan secara langsung, tapi dipikirkan terlebih dahulu bagaimana inovasi tersebut dapat diterima oleh masyarakat dengan upaya menserasikan inovasi tersebut dengan apa saja bentuk nilai dan sebagainya yang sudah ada di masyarakat sehingga tidak ada ketidakserasian jika sebuah inovasi telah siap dipublikasikan.
3.       Kerumitan (complexity); yakni apakah inovasi tersebut dirasakan rumit. Pada umumnya masyarakat tidak atau kurang berminat pada hal-hal yang rumit, sebab selain sukar untuk dipahami, juga cenderung dirasakan merupakan tambahan beban yang baru. Sudah jelas disini dikatakan bahwa hal hal baru yang akan dipublikasikan harus mudah digunkan karena umumnya masyarakat akan menjadi pengguna dengan melihat tingkat kerumitan sebuah inovasi, biasanya jika inovasi yang dipublikasikan mudah digunakan maka masyarakat akan banyak mengadopsi inovasi tersebut. Setidaknya, sebuah inovasi harus memiliki tingkat guna yang besar dan mudah digunakan oleh masyarakat.
4.       Dapat dicobakan (trialability); yakni bahwa sesuatu inovasi akan lebih cepat diterima, bila dapat dicobakan dulu dalam ukuran kecil sebelum orang terlanjur menerimanya secara menyeluruh. Sebaiknya sebuah inovasi dapat di cobakan terlebih dahulu sebab tingkat kepercayaan masyarakat atau calon pengguna inovasi pasti mempertimbangkan inovasi yang baru dikenalnya, jika inovasi tersebut telah dicobakan dan berhasil maka hal tersebut mampu memberikan dampak positif yaitu ketertarikan yang lebih besar untuk masyarakat.
5.       Dapat dilihat (observability); jika suatu inovasi dapat disaksikan dengan mata, dapat terlihat langsung hasilnya, maka orang akan lebih mudah untuk mempertimbangkan untuk menerimanya, ketimbang bila inovasi itu berupa sesuatu yang abstrak, yang hanya dapat diwujudkan dalam pikiran, atau hanya dapat dibayangkan. Hasil nyata sebuah inovasi merupakan bukti yang jelas terlihat oleh mata merupakan bentuk inovasi yang dapat dipertimbangkan untuk diterima daripada ide-ide yang tidak dapat diwujudkan.

Jadi, dalam kelima sifat ini sudah dijelaskan bagaimana inovasi dapat diterima oleh masyarakat agar sebuah inovasi dapat mendukung memenuhi kebutuhan yang sebelumnya ada menjadi tidak ada atau yang sebelumnya tidak memberikan banyak manfaat menjadi sangat bermanfaat.

            Adapun beberapa aspek-aspek kecepatan adopsi inovasi yakni :
a.   Relative advantage (keunggulan relatif), apakah inovasi yang diintroduksikan memberikan manfaat kepada adopters yang diukur tidak hanya pada aspek teknis dan ekonomis, juga dikaitkan dengan social prestige, kenyamanan (convenience) dan kepuasan (satisfaction).
b. Compatibility (kesesuaian) adalah  tingkat keserasian dari suatu inovasi apakah inovasi tersebut konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman sebelumnya dan kebutuhan adopter. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma adopter akan sulit diadopsi atau Jika inovasi berlawanan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dianut oleh adopter maka inovasi baru tersebut tidak dapat diadopsi dengan mudah oleh adopter.
c. Complexity (kerumitan), berkaitan dengan tingkat kesulitan hasil inovasi untuk dipahami dan digunakan oleh individu atau masyarakat/dunia industri. Inovasi yang kompleks relatif lebih sulit diadopsi,inovasi yang relatif lebih sederhana akan lebih mudah diadopsi.
d. Trialability atau triabilitas (ketercobaan/dapat diuji coba), merupakan tingkat apakah suatu inovasi dapat dicoba terlebih dahulu atau harus terikat untuk menggunakannya. Suatu inovasi dapat diuji cobakan pada keadaan sesungguhnya, inovasi pada umumnya lebih cepat diadopsi. Untuk lebih mempercepat proses adopsi, maka suatu inovasi harus mampu menunjukkan keunggulannya, sejauh mana inovasi dapat dicoba dan diuji dalam skala kecil, inovasi yang trialable akan mengurangi keraguan untuk mempelajari dan kemudian mempertimbangkan untuk mengadopsinya.
e. Observability (keteramatan), adalah tingkat bagaimana hasil penggunaan suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil suatu inovasi, semakin besar kemungkinan inovasi diadopsi oleh orang atau sekelompok orang. Mudah dilihat atau diamati secara fisik relatif akan memudahkan dalam menstimulasi individu atau masyarakat untuk mengadopsinya.

            Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan adopsi inovasi :
            Menurut Rogers (1983), tingkat adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, yaitu : atribut/karakteristik inovasi (keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, trialabilitas, observabilitas/dapat diamati), Jenis keputusan inovasi, saluran komunikasi (media massa atau interpersonal), sifat dasar sistem sosial (norma, sifat saling keterhubungan individu), upaya promosi agen perubahan.

ATRIBUT ATAU KARAKTERISTIK INOVASI
            Cepat lambatnya penerimaan inovasi oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Zaltman, Duncan, dan Holbek bahwa cepat lambatnya suatu inovasi diterima dan diikuti oleh masyarkat tergantung pada atribut atau karakteristik inovasi tersebut.
            Atribut atau karakteristik inovasi adalah salah satu hal yang penting dalam menjelaskan tingkat adopsi suatu inovasi. Dari 49 hingga 87 persen dari variasi dalam tingkat adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh lima atribut/karakteristik inovasi, yaitu keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, trialabilitas, observabilitas.
TIPE KEPUTUSAN INOVASI
            Suatu inovasi yang diadopsi secara individual secara umum diadopsi lebih cepat dari pada suatu inovasi yang diadopsi oleh suatu kelompok. Semakin banyak orang yang terlibat dalam pembuatan keputusan nuntuk mengadopsi suatu inovasi maka tingkat adopsi akan semakin lambat. Artinya, kecepatan tingkat adopsi inovasi dalam rangka untuk membuat sebuah keputusan inovasi tergantung semakin sedikitnya individu yang terlibat.
SALURAN-SALURAN KOMUNIKASI
            Saluran komunikasi merupakan suatu ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber paling tidakperlu memperhatikan (a) tujuan diadakannya komunikasi dan (b) karakteristik penerima. Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa. Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
            Saluran-saluran Komunikasi biasanya digunakan untuk mendifusikan suatu inovasi, juga dapat mempengaruhi tingkat adopsi inovasi. Contohnya jika saluran interpersonal (dibandingkan saluran media massa) menciptakan kesadaran ilmu pengetahuan, sebagaimana seringkali terjadi pada pengadopsi selanjutnya, tingkat adopsi mereka terjadi secara lambat.
          Jika sebuah saluran komunikasi yang tidak pantas digunakan, melalui seperti media massa untuk ide-ide baru yang rumit/kompleks/sulit dipahami, hal ini akan mengakibatkan tingkat adopsi yang rendah.

KONDISI SISTEM SOSIAL
            Sistem sosial merupakan berbagai unit yang saling berhubungan satu sama lain dalam tatanan masyarakat, dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Beberapa hal yang dikelompokkan sebagai bagian atau unit dalam sistem sosial kemasyarakatan antara lain meliputi : individu anggota masyarakat, tokoh masyarakat, pemimpin formal, kiai, kelompok tertentu dalam masyarakat. Kesemuanya secara nyata, baik langsung ataupun tak langsung mempengaruhi dalam proses difusi inovasi yang dilakukan.

            Skema variable tingkat adopsi inovasi di atas menunjukkan sifat dasar sistem sosial, seperti norma-norma masyarakat atau suatu sistem dan tingkat di mana struktur jaringan komunikasi saling berhubungan erat, juga mempengaruhi tingkat adopsi inovasi.
Peran Norma dalam Difusi Inovasi
            Norma merupakan hal yang penting dalam proses difusi inovasi. Lebih jauh dalam kaitannya dengan sistem sosial, norma yang dianut oleh masyarakat dapat dipandang sebagai pengikat dan pengukuh pola prilaku masyarakat yang bersangkutan sesuai dengan kaidah sistem sosial yang berlaku.

            Dalam kadar tertentu norma yang dianut juga dapat dipandang sebagai standar dari suatu tatanan prilaku masyarakat yang diianut. Norma itu sendiri bisa bercirian budaya lokal, bernafas keagamaan, ataupun ciri khusus suatu masyartakat tertentu, yang memberi warna tersendiri terhadap sosial budaya masyarakat yang bersengkutan. Namun demikian, di sisi lain norma suatu sistem juga bisa berperan sebagai pengahalang atau barrirers suatu perubahan. Banyak contoh kasus inovasi yang terganggu atau mengalami daya tolak masyarakat (resistensi) karena faktor norma sosial yang dianut oleh masyarakat. Misal, di beberapa provinsi di India, banyak sapi peliharaan yang dianaggap suci sehingga tabu bagi masyarakat untuk menyembelihnya, padahal masyarakat yang bersangkutan umumnya rawan gizi daan rawan protein hewani. Inovasi yang dilakukan termasuk perubahan di bidang pendidikan, direncanakan dan diorganisasikan sedemikian rupa sesuai dengan
social system yang dianut. Yang dimaksud dengan sistem sosial dalam pendidikan misalnya : lembaga sekolah (dasar, menengah, dan pendidikan tinggi), masyarakat pendidikan, malahan mungkin menjamah sistem organisasi yang lebih luas lagi yang berkaitan langsung dengan layanan pendidikan seperti : Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota, dewan sekolah, organisasi profesi guru PGRI, dan sebagainya.

UPAYA PROMOSI PERLUASAN AGEN-AGEN PERUBAHAN
          Dalam sistem sosial, salah satu komponen penting adalah pemimpin pendapat (opinion leaders) dan agen perubahan. Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa difusi inovasi yang pada dasarnya sebagai penyebarluasan dari gagasan inovasi tersebut melalui suatu proses komunikasi yang dilakukan dengan mengunakan saluran tertentu dalam suatu rentang waktu tertentu di antara anggota sistem sosial masyarakat. Oleh karena sistem sosial merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi, maka proses difusi inovasi tak senantiasa berjalan mulus, karena perbedaan latar belakang dan sistem sosial yang berlaku. Sering peran pemimpi pendapat (opinion leaders) sangat berpengaruh pada prilaku individu.

            Pemimpin pendapat adalah suatu tingkat dimana seorang individu dapat mempengaruhi individu yang lainnya atau mengatur prilaku individu lainnya secara tidak formal ke arah kondisi yang diharapkan, sesuai dengan norma yang berlaku. Sedangkan agen perubahan (change agent)merupakan individu yang bisa mempengaruhi pengambilan inovasi klien ke arah yang diharapkan para agent perubahan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

inovasi dalam dunia pendidikan :Pendidikan Jarak Jauh

              IDENTIFIKASI INOVASI

Pendidikan Jarak Jauh
Nama : Pendidikan Jarak Jauh
Wujud : Inovasi ini berupa jasa.
Kegunaannya : Kegunaan utama dari inovasi ini adalah untuk memberikan pendidikan bagi orang yang ingin melanjutkan pendidikannya namun lebih sibuk dalam bekerja dan dapat memperolehnya sewaktu-waktu.
Cara kerja : Pendidikan Jarak Jauh ini dapat berjalan dengan menggunakan bantuan jasa Internet yang sekarang ini sudah menjamur dalam masyarakat, dan dengan Internet ini juga semua aktifitas belajar dapat berjalan, jadi kita tidak perlu untuk datang ke sekolah karena juga akan membuang-buang waktu. Jadwal serta jam belajar pun warga belajarlah yang menentukan, sehingga tingkat ke efektifan program atau jasa ini sangat tinggi dan berkualitas.
Cara menggunakannya : Prosedur agar program ini dapat berjalan, jika dan prinsip kerja inovasi ini telah memenuhi kondisi kondisi dibawah ini :
Kondisi-kondisi untuk program pendidikan jarak jauh:
Kelas informasi:
• Alamat website kelas
• Nama dosen, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
• Nama asisten pengajar, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
• Nama tutor, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
• Nama asisten pendidikan / pustakawan, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
• Lokasi dan jam kerja pusat informasi, nomor telepon, manajer pusat informasi dengan alamat e-mail.
Logistik
• Materi pendidikan yang anda harapkan.
• Bagaimana anda akan menerima materi pendidikan tersebut.
• Bagaimana anda diberitahu atau belajar, serta pengumuman dan pembatalan kelas.
Persyaratan teknis:
• Peralatan komputer dan internet, program dan spesifikasinya.
• Type dan versi program.
• Kemudahan mengakses multimedia.
Jadwalkan diri anda sendiri dan bertahanlah pada jadwal yang telah ditetapkan, yang
• Sejalan dengan silabus program pendidikan, atau yang
• Telah dibicarakan atau dijelaskan dengan instruktur.
Jadwalkan diri anda setiap hari / minggu untuk komunikasi program untuk
Umpan balik pada instruktur.
Dalam pertemuan tatap muka, seorang instruktur bergantung pada umpan balik dari siswanya, baik dengan pertanyaan maupun ekspresi wajah / fisik. Dalam program jarak jauh, hal ini merupakan hal yang sangat sulit, dan anda bertanggung jawab untuk memberitahu instruktur tentang bagaimana anda menerima pelajaran baik melalui janji pertemuan, pembicaraan telepon atau e-mail.
• Menunjukkan kemajuan dan ketaatan.
• Laporan perkembangan : instruktur harus memberikan umpan balik pada anda mengenai kemajuan selama pelajaran. Mintalah jadwal evaluasi, kondisi dan metode untuk kemajuan anda melalui materi-materi yang ada. Metode-metode tersebut meliputi :
o Tes-tes yang meliputi penguasaan pengetahuan atau hasil dari tugas-tugas yang diberikan.
o Laporan-laporan, proyek-proyek, kasus studi, rangkuman pendidikan, dan lain-lain.
o Masukan secara kualitatif dan kuantitatif dalam diskusi pelajaran dan proyek-proyek.
Sumber Inovasi :
Penemu Inovasi : Pendidikan Jarak Jauh tanggal untuk setidaknya pada awal 1728, ketika "iklan di Boston Lembaran ... 'Caleb Phillips, Guru metode baru dari Tangan Pendek" adalah mencari siswa untuk pelajaran yang akan dikirim mingguan. Modern pendidikan jarak jauh telah dipraktikkan setidaknya sejak Isaac Pitman mengajar stenografi di Great Britain melalui korespondensi di tahun 1840-an. Pengembangan layanan pos di abad ke-19 menyebabkan pertumbuhan perguruan tinggi korespondensi komersial dengan jangkauan nasional.
Penyebar Inovasi : Presiden pertama dari University of Chicago, William Rainey Harper dikembangkan diperpanjang pendidikan dan dianggap salah satu pendiri dari "belajar dengan program korespondensi". University of Chicago melembagakan KCD pertama di Amerika Serikat melalui penggunaan surat, menjangkau kelompok besar siswa internasional.
Pengguna Inovasi : Pengguna inovasi ini pada sekarang ini tidak dibatasi dengan umur, namun kebanyakan yang menggunakan inovasi ini adalah orang-orang yang telah bekerja dan ingin mendapatkan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Contoh Pelatihan di PKBM


Program PKBM Aisyiyah Dau Malang Mengadakan Pelatihan Kursus Menjahit

IMG1467A
Peserta Kursus sedang Praktik Pengukuran
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ‘Aisyiyah Dau Malang merupakan institusi pendidikan non formal yang didirikan sebagai sarana belajar untuk pengembangan keterampilan masyarakat seperti keterampilan baca tulis, menjahit, mendidirikan usaha, dan keterampilan lain yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang adalah institusi pendidikan non formal dibawah naungan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Malang. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dipandang strategis dalam membantu mewujudkan keterampilan masyarakat dengan alasan: (1) berada pada daerah yang kondusif untuk belajar mengajar, (2) memiliki SDM yang mempuni dalam mengajar dan mendampingi masyarakat, dan (3) tingginya minat masyarakat untuk ikut berpartisipasi.
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang didirikan pada bulan Januari tahun 2012. Pendirian PKBM ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya: (1) Daerah Kabupaten Malang masih minim akan keberadaan PKBM, (2) Masyarakat Kabupaten Malang sangat membutuhkan media belajara seperti PKBM, dan (3) masyarakat Kabupaten Malang khususnya di desa-desa terplosok tergolong tinggi angka buta aksara dan minim keterampilan. Atas dasar tersebut, beberapa pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Dau Malang berinisiatif mendirikan PKBM. PKBM ini masih tergolong mudah, namun telah menjalankan program kursus menjahit. Kursus menjahit merupakan program pertama yang dijalankan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.
Pengurus PKBM 'Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Pengurus PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Peserta kursus terdapat 29 orang. Peserta tersebut adalah masyarakat yang ada di sekitar Kecamatan Dau Malang.  Kursus dijalankan selama tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut PKBM ‘Asyiyah Dau Malang mampu mewujudkan keterampilan menjahit bagi masyarakat sekitar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Peserta mampu membuat pola baju, pola jilbab, dan pola rok. Selain membuat pola, peserta juga mampu menjahit dengan baik dan sempurna. Sebagai upaya yang berorientasi berkelanjutan, peserta kursus yang telah dibekali keterampilan menjahit tersebut didistribusikan pada mitra usaha konveksi. Langkah ini perlu dilakukan agar keterampilan yang didapatkan melalui program kursus menjahit tidak sia-sia. Selain didistribusikan pada mitra usaha konveksi, PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang memberikan bantuan berupa peminjaman mesin jahit kepada peserta kursus sebagai modal awal rintisan usaha konveksi secara mandiri.
Dalam menjalankan program di atas terdapat kendala utama yang dihadapi PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, yakni keterbatasan fasilitas pendukung yang dimiliki seperti mesin menjahit, tempat kursus yang sangat sempit, tutor kursus masih sangat sedikit, dan terdapat beberapa peserta kursus yang minim akan pengetahuan teknologi informasi seperti computer dan internet. Kendala-kendala tersebut diatasi dengan bijak oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan memberdayakan Sumber Daya Manusia yang dimiliki.
Kantor PKBM 'Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
Kantor PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melakukan pemberdayaan masyrakat melalui program kursus menjahit seperti dijelaskan di atas dipandang sebagai program strategis, karena keterampilan menjahit sangat prospek untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu khususnya, dengan alasan: (1) di era sekarang ini masyarakat memiliki trand menggunakan pakaian hasil dari jahitan atau konveksi, (2) kebutuhan pelajar terhadap pakaian sekolah hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, (3) kebutuhan kantoran terhadap pakaian dinas hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, dan (4) perkembangan teknologi informasi sebagai pendukung keteranpilan menjahit sangat menjanjikan untuk membangun usaha konveksi.
Sebagai langkah dalam memperkuat dan mengembangkan usaha konveksi yang dikelolah oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melalui peserta kursus menjahit yang sukses menguasai keterampilan menjahit, maka dibutuhkan mitra.  Berdasarkan hasil survei dan diskusi Tim IbM, bahwa mitra yang memiliki spirit wirausaha yang sama, saling melengkapi akan ketersedian bahan baku, saling melengkapi akan ketersedian sumber daya yang ada, dan saling menguntungkan secara ekonomi, adalah Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang, dengan alasan: (1) Secara geografis PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang sangat dekat, sehingga akses dalam membangun hubungan sangat lancer, (2) Kedua lembaga tersebut memiliki pemahan yang sama tentang arah pengembangan usaha, (3) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki gedung yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, (4) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak mitra dengan
Mesin Jahit PKBM 'Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
Mesin Jahit PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
institusi pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang sebagai tempat pemasaran hasil karya peserta kursus menjahit baik yang dihasilkan pada usaha konveksi orang lain maupun dihasilkan melalui usaha mandiri, dan (5) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak SDM  yang dapat diberdayakan dengan saling menguntungkan.
Melalui pengusulan IbM ini diharapkan dapat membantu PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang untuk mengembangkan program kursus menjahit dan mampu mewujudkan usaha konveksi mandiri bagi peserta kursus menjahit yang diselenggarakan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Contoh Pelatihan di PKBM


Program PKBM Aisyiyah Dau Malang Mengadakan Pelatihan Kursus Menjahit

IMG1467A
Peserta Kursus sedang Praktik Pengukuran
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ‘Aisyiyah Dau Malang merupakan institusi pendidikan non formal yang didirikan sebagai sarana belajar untuk pengembangan keterampilan masyarakat seperti keterampilan baca tulis, menjahit, mendidirikan usaha, dan keterampilan lain yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang adalah institusi pendidikan non formal dibawah naungan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Malang. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dipandang strategis dalam membantu mewujudkan keterampilan masyarakat dengan alasan: (1) berada pada daerah yang kondusif untuk belajar mengajar, (2) memiliki SDM yang mempuni dalam mengajar dan mendampingi masyarakat, dan (3) tingginya minat masyarakat untuk ikut berpartisipasi.
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang didirikan pada bulan Januari tahun 2012. Pendirian PKBM ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya: (1) Daerah Kabupaten Malang masih minim akan keberadaan PKBM, (2) Masyarakat Kabupaten Malang sangat membutuhkan media belajara seperti PKBM, dan (3) masyarakat Kabupaten Malang khususnya di desa-desa terplosok tergolong tinggi angka buta aksara dan minim keterampilan. Atas dasar tersebut, beberapa pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Dau Malang berinisiatif mendirikan PKBM. PKBM ini masih tergolong mudah, namun telah menjalankan program kursus menjahit. Kursus menjahit merupakan program pertama yang dijalankan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.
Pengurus PKBM 'Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Pengurus PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Peserta kursus terdapat 29 orang. Peserta tersebut adalah masyarakat yang ada di sekitar Kecamatan Dau Malang.  Kursus dijalankan selama tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut PKBM ‘Asyiyah Dau Malang mampu mewujudkan keterampilan menjahit bagi masyarakat sekitar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Peserta mampu membuat pola baju, pola jilbab, dan pola rok. Selain membuat pola, peserta juga mampu menjahit dengan baik dan sempurna. Sebagai upaya yang berorientasi berkelanjutan, peserta kursus yang telah dibekali keterampilan menjahit tersebut didistribusikan pada mitra usaha konveksi. Langkah ini perlu dilakukan agar keterampilan yang didapatkan melalui program kursus menjahit tidak sia-sia. Selain didistribusikan pada mitra usaha konveksi, PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang memberikan bantuan berupa peminjaman mesin jahit kepada peserta kursus sebagai modal awal rintisan usaha konveksi secara mandiri.
Dalam menjalankan program di atas terdapat kendala utama yang dihadapi PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, yakni keterbatasan fasilitas pendukung yang dimiliki seperti mesin menjahit, tempat kursus yang sangat sempit, tutor kursus masih sangat sedikit, dan terdapat beberapa peserta kursus yang minim akan pengetahuan teknologi informasi seperti computer dan internet. Kendala-kendala tersebut diatasi dengan bijak oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan memberdayakan Sumber Daya Manusia yang dimiliki.
Kantor PKBM 'Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
Kantor PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melakukan pemberdayaan masyrakat melalui program kursus menjahit seperti dijelaskan di atas dipandang sebagai program strategis, karena keterampilan menjahit sangat prospek untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu khususnya, dengan alasan: (1) di era sekarang ini masyarakat memiliki trand menggunakan pakaian hasil dari jahitan atau konveksi, (2) kebutuhan pelajar terhadap pakaian sekolah hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, (3) kebutuhan kantoran terhadap pakaian dinas hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, dan (4) perkembangan teknologi informasi sebagai pendukung keteranpilan menjahit sangat menjanjikan untuk membangun usaha konveksi.
Sebagai langkah dalam memperkuat dan mengembangkan usaha konveksi yang dikelolah oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melalui peserta kursus menjahit yang sukses menguasai keterampilan menjahit, maka dibutuhkan mitra.  Berdasarkan hasil survei dan diskusi Tim IbM, bahwa mitra yang memiliki spirit wirausaha yang sama, saling melengkapi akan ketersedian bahan baku, saling melengkapi akan ketersedian sumber daya yang ada, dan saling menguntungkan secara ekonomi, adalah Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang, dengan alasan: (1) Secara geografis PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang sangat dekat, sehingga akses dalam membangun hubungan sangat lancer, (2) Kedua lembaga tersebut memiliki pemahan yang sama tentang arah pengembangan usaha, (3) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki gedung yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, (4) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak mitra dengan
Mesin Jahit PKBM 'Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
Mesin Jahit PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
institusi pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang sebagai tempat pemasaran hasil karya peserta kursus menjahit baik yang dihasilkan pada usaha konveksi orang lain maupun dihasilkan melalui usaha mandiri, dan (5) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak SDM  yang dapat diberdayakan dengan saling menguntungkan.
Melalui pengusulan IbM ini diharapkan dapat membantu PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang untuk mengembangkan program kursus menjahit dan mampu mewujudkan usaha konveksi mandiri bagi peserta kursus menjahit yang diselenggarakan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Contoh Pelatihan di PKBM


Program PKBM Aisyiyah Dau Malang Mengadakan Pelatihan Kursus Menjahit

IMG1467A
Peserta Kursus sedang Praktik Pengukuran
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ‘Aisyiyah Dau Malang merupakan institusi pendidikan non formal yang didirikan sebagai sarana belajar untuk pengembangan keterampilan masyarakat seperti keterampilan baca tulis, menjahit, mendidirikan usaha, dan keterampilan lain yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang adalah institusi pendidikan non formal dibawah naungan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Malang. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dipandang strategis dalam membantu mewujudkan keterampilan masyarakat dengan alasan: (1) berada pada daerah yang kondusif untuk belajar mengajar, (2) memiliki SDM yang mempuni dalam mengajar dan mendampingi masyarakat, dan (3) tingginya minat masyarakat untuk ikut berpartisipasi.
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang didirikan pada bulan Januari tahun 2012. Pendirian PKBM ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya: (1) Daerah Kabupaten Malang masih minim akan keberadaan PKBM, (2) Masyarakat Kabupaten Malang sangat membutuhkan media belajara seperti PKBM, dan (3) masyarakat Kabupaten Malang khususnya di desa-desa terplosok tergolong tinggi angka buta aksara dan minim keterampilan. Atas dasar tersebut, beberapa pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Dau Malang berinisiatif mendirikan PKBM. PKBM ini masih tergolong mudah, namun telah menjalankan program kursus menjahit. Kursus menjahit merupakan program pertama yang dijalankan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.
Pengurus PKBM 'Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Pengurus PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Peserta kursus terdapat 29 orang. Peserta tersebut adalah masyarakat yang ada di sekitar Kecamatan Dau Malang.  Kursus dijalankan selama tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut PKBM ‘Asyiyah Dau Malang mampu mewujudkan keterampilan menjahit bagi masyarakat sekitar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Peserta mampu membuat pola baju, pola jilbab, dan pola rok. Selain membuat pola, peserta juga mampu menjahit dengan baik dan sempurna. Sebagai upaya yang berorientasi berkelanjutan, peserta kursus yang telah dibekali keterampilan menjahit tersebut didistribusikan pada mitra usaha konveksi. Langkah ini perlu dilakukan agar keterampilan yang didapatkan melalui program kursus menjahit tidak sia-sia. Selain didistribusikan pada mitra usaha konveksi, PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang memberikan bantuan berupa peminjaman mesin jahit kepada peserta kursus sebagai modal awal rintisan usaha konveksi secara mandiri.
Dalam menjalankan program di atas terdapat kendala utama yang dihadapi PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, yakni keterbatasan fasilitas pendukung yang dimiliki seperti mesin menjahit, tempat kursus yang sangat sempit, tutor kursus masih sangat sedikit, dan terdapat beberapa peserta kursus yang minim akan pengetahuan teknologi informasi seperti computer dan internet. Kendala-kendala tersebut diatasi dengan bijak oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan memberdayakan Sumber Daya Manusia yang dimiliki.
Kantor PKBM 'Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
Kantor PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melakukan pemberdayaan masyrakat melalui program kursus menjahit seperti dijelaskan di atas dipandang sebagai program strategis, karena keterampilan menjahit sangat prospek untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu khususnya, dengan alasan: (1) di era sekarang ini masyarakat memiliki trand menggunakan pakaian hasil dari jahitan atau konveksi, (2) kebutuhan pelajar terhadap pakaian sekolah hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, (3) kebutuhan kantoran terhadap pakaian dinas hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, dan (4) perkembangan teknologi informasi sebagai pendukung keteranpilan menjahit sangat menjanjikan untuk membangun usaha konveksi.
Sebagai langkah dalam memperkuat dan mengembangkan usaha konveksi yang dikelolah oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melalui peserta kursus menjahit yang sukses menguasai keterampilan menjahit, maka dibutuhkan mitra.  Berdasarkan hasil survei dan diskusi Tim IbM, bahwa mitra yang memiliki spirit wirausaha yang sama, saling melengkapi akan ketersedian bahan baku, saling melengkapi akan ketersedian sumber daya yang ada, dan saling menguntungkan secara ekonomi, adalah Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang, dengan alasan: (1) Secara geografis PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang sangat dekat, sehingga akses dalam membangun hubungan sangat lancer, (2) Kedua lembaga tersebut memiliki pemahan yang sama tentang arah pengembangan usaha, (3) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki gedung yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, (4) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak mitra dengan
Mesin Jahit PKBM 'Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
Mesin Jahit PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
institusi pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang sebagai tempat pemasaran hasil karya peserta kursus menjahit baik yang dihasilkan pada usaha konveksi orang lain maupun dihasilkan melalui usaha mandiri, dan (5) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak SDM  yang dapat diberdayakan dengan saling menguntungkan.
Melalui pengusulan IbM ini diharapkan dapat membantu PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang untuk mengembangkan program kursus menjahit dan mampu mewujudkan usaha konveksi mandiri bagi peserta kursus menjahit yang diselenggarakan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Contoh Pelatihan di PKBM


Program PKBM Aisyiyah Dau Malang Mengadakan Pelatihan Kursus Menjahit

IMG1467A
Peserta Kursus sedang Praktik Pengukuran
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ‘Aisyiyah Dau Malang merupakan institusi pendidikan non formal yang didirikan sebagai sarana belajar untuk pengembangan keterampilan masyarakat seperti keterampilan baca tulis, menjahit, mendidirikan usaha, dan keterampilan lain yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang adalah institusi pendidikan non formal dibawah naungan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Malang. PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dipandang strategis dalam membantu mewujudkan keterampilan masyarakat dengan alasan: (1) berada pada daerah yang kondusif untuk belajar mengajar, (2) memiliki SDM yang mempuni dalam mengajar dan mendampingi masyarakat, dan (3) tingginya minat masyarakat untuk ikut berpartisipasi.
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang didirikan pada bulan Januari tahun 2012. Pendirian PKBM ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya: (1) Daerah Kabupaten Malang masih minim akan keberadaan PKBM, (2) Masyarakat Kabupaten Malang sangat membutuhkan media belajara seperti PKBM, dan (3) masyarakat Kabupaten Malang khususnya di desa-desa terplosok tergolong tinggi angka buta aksara dan minim keterampilan. Atas dasar tersebut, beberapa pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Dau Malang berinisiatif mendirikan PKBM. PKBM ini masih tergolong mudah, namun telah menjalankan program kursus menjahit. Kursus menjahit merupakan program pertama yang dijalankan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.
Pengurus PKBM 'Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Pengurus PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang Rapat Konsep Kursus Menjahit Tahap I, 2011
Peserta kursus terdapat 29 orang. Peserta tersebut adalah masyarakat yang ada di sekitar Kecamatan Dau Malang.  Kursus dijalankan selama tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut PKBM ‘Asyiyah Dau Malang mampu mewujudkan keterampilan menjahit bagi masyarakat sekitar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Peserta mampu membuat pola baju, pola jilbab, dan pola rok. Selain membuat pola, peserta juga mampu menjahit dengan baik dan sempurna. Sebagai upaya yang berorientasi berkelanjutan, peserta kursus yang telah dibekali keterampilan menjahit tersebut didistribusikan pada mitra usaha konveksi. Langkah ini perlu dilakukan agar keterampilan yang didapatkan melalui program kursus menjahit tidak sia-sia. Selain didistribusikan pada mitra usaha konveksi, PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang memberikan bantuan berupa peminjaman mesin jahit kepada peserta kursus sebagai modal awal rintisan usaha konveksi secara mandiri.
Dalam menjalankan program di atas terdapat kendala utama yang dihadapi PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, yakni keterbatasan fasilitas pendukung yang dimiliki seperti mesin menjahit, tempat kursus yang sangat sempit, tutor kursus masih sangat sedikit, dan terdapat beberapa peserta kursus yang minim akan pengetahuan teknologi informasi seperti computer dan internet. Kendala-kendala tersebut diatasi dengan bijak oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan memberdayakan Sumber Daya Manusia yang dimiliki.
Kantor PKBM 'Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
Kantor PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, Perum Pondok Indah Sengkaling Malang
PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melakukan pemberdayaan masyrakat melalui program kursus menjahit seperti dijelaskan di atas dipandang sebagai program strategis, karena keterampilan menjahit sangat prospek untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu khususnya, dengan alasan: (1) di era sekarang ini masyarakat memiliki trand menggunakan pakaian hasil dari jahitan atau konveksi, (2) kebutuhan pelajar terhadap pakaian sekolah hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, (3) kebutuhan kantoran terhadap pakaian dinas hasil jahitan atau konveksi sangat tinggi, dan (4) perkembangan teknologi informasi sebagai pendukung keteranpilan menjahit sangat menjanjikan untuk membangun usaha konveksi.
Sebagai langkah dalam memperkuat dan mengembangkan usaha konveksi yang dikelolah oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang melalui peserta kursus menjahit yang sukses menguasai keterampilan menjahit, maka dibutuhkan mitra.  Berdasarkan hasil survei dan diskusi Tim IbM, bahwa mitra yang memiliki spirit wirausaha yang sama, saling melengkapi akan ketersedian bahan baku, saling melengkapi akan ketersedian sumber daya yang ada, dan saling menguntungkan secara ekonomi, adalah Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang, dengan alasan: (1) Secara geografis PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dengan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang sangat dekat, sehingga akses dalam membangun hubungan sangat lancer, (2) Kedua lembaga tersebut memiliki pemahan yang sama tentang arah pengembangan usaha, (3) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki gedung yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang, (4) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak mitra dengan
Mesin Jahit PKBM 'Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
Mesin Jahit PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang. Mesin Jahit ini hasil swadaya pengurus Aisyiyah Dau Malang.
institusi pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang sebagai tempat pemasaran hasil karya peserta kursus menjahit baik yang dihasilkan pada usaha konveksi orang lain maupun dihasilkan melalui usaha mandiri, dan (5) Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang memiliki banyak SDM  yang dapat diberdayakan dengan saling menguntungkan.
Melalui pengusulan IbM ini diharapkan dapat membantu PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang dan Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah Dau Malang untuk mengembangkan program kursus menjahit dan mampu mewujudkan usaha konveksi mandiri bagi peserta kursus menjahit yang diselenggarakan oleh PKBM ‘Aisyiyah Dau Malang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

apa sih sebenarnya Adopsi inovasi ituu??? pengen tahu!!!!!!!




 ADOPSI INOVASI

PENGERTIAN TENTANG INOVASI

Inti dari seiap upaya pembangunan yang disampaikan melalui kegiatan penyuluhan, pada dasarnya ditujukan untuk tercapainya perubahan-perubahan perilaku masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup yang mencakup banyak aspek, baik: ekonomi, sosial, budaya, ideologi, politik maupun pertahanan dan keamanan.
Karena itu, pesan-pesan pembangunan yang disuluhkan haruslah mampu mendorong atau mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan yang memiliki sifat "pembaharuan" yang biasa disebut dengan istilah "inovativensess".

Rogers dan Shoemaker (1971) mengartikan inovasi sebagai: ide-ide baru, praktek-praktek baru, atau obyek-obyek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran penyuluhan. Sedang Lionberger dan Gwin (1982) mengartikan inovasi tidak sekadar sebagai sesuatu yang baru, tetapi lebih luas dari itu, yakni sesuatu yang dinilai baru atau dapat mendorong terjadinya pembaharuan dalam masyarakat atau pada lokalitas tertentu.
Pengertian "baru" disini, mengandung makna bukan sekadar "baru diketahui" oleh pikiran (cognitive), akan tetapi juga baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat dalam arti sikap (attitude), dan juga baru dalam pengertian belum diterima dan dilaksanakan/diterapkan oleh seluruh warga masyarakat setempat.

Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi saja, tetapi mencakup: ideologi, kepercayaan, sikap hidup, informasi, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju kepada proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Dengan demikian, pengertian inovasi dapat semakin diperluas menjadi:

"Sesuatu ide, produk, informasi teknologi,kelembagaan, peri-laku, nilai-nilai, dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan/dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi selalu terwujudnya perbaikan-perbaikaan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang ber-sangkutan". (Mardikanto, 1988)".

Pengertian "baru" yang melekat pada istilah inovasi tersebut bukan selalu berarti baru diciptakan, tetapi dapat berupa sesuatu yang sudah "lama" dikenal, diterima, atau digunakan/diterapkan oleh masyarakat di luar sistem sosial yang menganggapnya sebagai sesuatu yang masih "baru".
Pengertian “baru” juga tidak selalu harus datang dari luar, tetapi dapat berupa teknologi setempat (indegenuous technol-ogy) atau kebiasaan setempat (kearifan tradisional) yang sudah lama ditinggalkan


PENGERTIAN ADOPSI

Adopsi, dalam proses penyuluhan (pertanian), pada hakekatnya dapat diartikan sebagai proses penerimaan inovasi dan atau perubahan perilaku baik yang berupa: pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun ketrampilan (psycho-motoric) pada diri seseorang setelah menerima "inovasi" yang disampaikan penyuluh oleh masyarakat sasarannya.
Penerimaan di sini mengandung arti tidak sekadar "tahu", tetapi sampai benar-benar dapat melaksanakan atau menerap-kannya dengan benar serta menghayatinya dalam kehidupan dan usahataninya. Penerimaan inovasi tersebut, biasanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain, sebagai cerminan dari adanya perubahan: sikap, pengeta-huan, dan atau ketrampilannya.
Pengertian adopsi sering rancu dengan "adaptasi" yang berarti penyesuaian. Di dalam proses adopsi, dapat juga berlangsung proses penyesuaian, tetapi adaptasi itu sendiri lebih merupakan proses yang berlangsung secara alami untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan. Sedang adopsi, benar-benar merupakan proses penerimaan sesuatu yang "baru" (inovasi), yaitu menerima sesuatu yang "baru" yang ditawarkan dan diupayakan oleh pihak lain (penyuluh). 

Tahapan – tahapan Adopsi :
Pada dasarnya, proses adopsi pasti melalui tahapan sebelum masyarakat menerima atau menerapkan dengan keyakinannya sendiri. Tahapan dari Adopsi yaitu :
1.      Awwareness, atau kesadaran, yaitu penerima mulai sadar mengenai adanya inovasi yang ditawarkn oleh penyuluh.
2.      Interest, atau tumbuhnya minat atau keinginannya untuk bertanya, mengetahui lebih jauh tentang inovasi yang ditawarkan.
3.      Evaluation, atau penilaian terhadap baik atau buruk mengenai manfaat inovasi yang telah diketahui informasinya secara lebih lengkap.
4.      Trial, atau mencoba dalam skala kecil untuk lebih meyakinkan penilaiannya, sebalum menerapkan untuk skala yang lebih luas lagi.
5.      Adoption, yaitu menerima atau menerapkan dengankeyakinn berdasarkan penilaian dan uji coba yang telah diamatinya sendiri. 
 Dari khasanah kepustakaan diperoleh informasi bahwa kecepatan adopsi, ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu:

1) Sifat-sifat atau karakteristik inovasi
2) Sifat-sifat atau karakteristik calon pengguna
3) Pengambilan keputusan adopsi
4) Saluran atau media yang digunakan
5) Kualifikasi penyuluh.

Meskipun demikian, Mardikanto (1995) mensinyalir bahwa, identifikasi beragam faktor penentu kecepatan adopsi inovasi itu masih terbatas pada pendekatan proses komunikasi.
Karena itu, dia mencoba menggali lebih jauh dengan melaku-kan pendekatan kebudayaan (Soewardi, 1976), dan pendekat-an sistem agribisnis.
Lebih lanjut, karena kegiatan penyuluhan pertanian dapat dili-hat sebagai sub-sistem pengembangan masyarakat, maka kece patan adopsi inovasi dapat pula dipengaruhi oleh perilaku aparat dan hal-hal lain yang terkait dalam kegiatan pengem-bangan masyarakat.

Studi tentang adopsi inovasi, telah banyak dilakukan oleh berbagai pi-hak. Herman Soewardi (1976), misalnya, telah melakukan studi untuk melihat proses adopsi sebagai proses perkembangan kebudayaan, berdasarkan teori Erasmus:

A = f (M, C, L)

di mana: A = adoption,
M = motivation,
C = cognition, dan
L = limitation.

Di lain pihak, sejalan dengan perkembangan pene-rapan ilmu penyuluhan pembangunan di Indonesia, Margono Slamet (1978) dengan menggunakan pendekatan ilmu komunikasi seperti yang biasa dilakukan oleh Rogers (1969), mengenalkan variabel-variabel penentu kecepatan adopsi yang terdiri atas: sifat-sifat inovasinya, kegiatan promosi yang dila-kukan penyuluh, ciri-ciri sistem sosial masyarakat sasaran, dan jenis pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sasar-an.
Selain itu, proses adopsi inovasi juga dapat didekati dengan pemahaman bahwa proses adopsi inovasi itu sendiri merupa-kan proses yang diupayakan secara sadar demi tercapainya tujuan pembangunan pertanian.
Pembangunan pertanian, menurut alm. Hadisapoetro (1970), pada hakeketanya dapat diartikan sebagai proses turut-campurnya tangan manusia di dalam perkembangan tanaman dan/atau hewan, agar lebih dapat memberikan man-faat bagi kesejahteraan manusia (petani) dan masyarakatnya.
Sebagai suatu proses, pembangunan pertanian merupakan proses interaksi dari ba-nyak pihak yang secara langsung maupun tak-langsung terkait dengan upaya peningkatan produktivitas usahatani dan peningkatan pendapatan serta perbaikan mutu-hidup, melalui penerapan teknologi yang terpilih (Totok Mardikanto, 1988).
Berlandaskan pada pemahaman seperti itu, dapat disimpulkan beberapa pokok-pokok pemikiran tentang adopsi inovasi kaitannya dengan pembangunan pertanian, sebagai berikut:

1) Adopsi inovasi memerlukan proses komunikasi yang terus-menerus untuk me-ngenalkan, menjelaskan, mendidik, dan membantu masyarakat agar tahu, mau, dan mampu menerapkan teknologi terpilih (yang disuluhkan).

2) Adopsi inovasi merupakan proses pengambilan keputusan yang berkelanjutan dan tidak kenal berhenti, untuk: mem-perhatikan, menerima, memahami, meng-hayati, dan mene rapkan teknologi-terpilih yang disuluhkan.

3) Adopsi inovasi memerlukan kesiapan untuk melakukan perubahan-perubahan dalam praktek berusahatani, dengan memanfaatkan teknologi terpilih (yang disuluhkan).

Selaras dengan itu, maka kajian terhadap faktor-faktor penentu adopsi inovasi dapat dilakukan melalui tiga pende-katan sekaligus, yaitu: pendekatan komunikasi, psiko-sosial, dan sistem agribisnis.

A. Pendekatan Komunikasi

Berlo (1961) menegaskan bahwa, kejelasan komuni-kasi sangat ditentukan oleh keempat unsur-unsurnya, yang ter-diri dari: sumber, pesan, saluran, dan penerimanya.
Bertolak dari konsep ini, maka proses adopsi inovasi diten-tukan oleh kualitas pe-nyuluhan yang mencakup: kualitas penyuluh, sifat-sifat inovasinya, saluran komunikasi yang digunakan, dan ciri-ciri sasaran yang meliputi: status sosial-ekonomi, dan persepsinya terhadap aparat pelaksana kegiatan penyuluhan maupun program-program pembangunan pada umumnya (Rogers, 1969).
1) Sifat-sifat Inovasi

Dilihat dari sifat inovasinya, dapat dibedakan dalam sifat intrinsik (yang melekat pada inovasinya sendiri) maupun sifat ekstrinsik (yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya (Mardikanto, 1988).

Sifat-sifat intrinsik inovasi itu mencakup:
a. informasi ilmiah yang melekat/dilekatkan pada inovasi-nya,
b. nilai-nilai atau keunggulan-keunggulan (teknis, ekonomis, sosial budaya, dan politis) yang melekat pada inovasinya,
c. tingkat kerumitan (kompleksitas) inovasi,
d. mudah/tidaknya dikomunikasikan (kekomunikatifan) ino-vasi,
e. mudah/tidaknya inovasi tersebut dicobakan (trialability),
f. mudah/tidaknyaa inovasi tersebut diamati (observability).




Sedang sifat-sifat ekstrinsik inovasi meliputi:
a. kesesuaian (compatibility) inovas dengan lingkungan setempat (baik lingkungan fisik, sosial budaya, politik, dan kemampuan ekonomis masyarakatnya).
b. tingkat keunggulan relatif dari inovasi yang ditawarkan, atau keunggulan lain yang dimiliki oleh inovasi dibanding dengan teknologi yang sudah ada yang akan diperbaharui/ digaantikannya; baik keunggulan teknis (kecocokan dengan keadaan alam setempat, tingkat produktivitas-nya), ekonomis (besarnya beaya atau keuntungannya), manfaat non ekonomi, maupun dampak sosial budaya dan politis yang ditimbulkannya.

Sehubungan dengan ragam sifat inovasi yang dikemu-kakan di atas, Roy (1981) dari hasil penelitiannya berhasil memberikan urutan jenjang kepentingan dari masing-masing sifat inovasi yang perlu diperhatikan di dalam kegiatan penyuluhan (Tabel 2).

Tabel 2. Urutan Jenjang Kepentingan
Sifat-sifat Inovasi

Urutan Jenjang Kepentingan
Sifat inovasi

1 Tingkat Keuntungan
(profitability)
2 Beaya yang diperlukan
(cost of innovation)
3 Tingkat kerumitan/kesederhanaan
(complexity-simplicity)
4 Kesesuaian dengan lingkungan fisik
(physical compatibility)
5 Kesesuaian dengan lingkungan budaya
(cultural compatibility)
6 Tingkat mudahnya dikomunikasikan
(communcicability)
7 Penghematan tenaga kerja dan waktu
(saving of labour and time)
Dapat/tidaknya dipecah-pecah/dibagi
(divisibility)
Sumber: Crouch and Chamala, 1981


2) Kualitas Penyuluh

Termasuk dalam pengertian kualitas penyuh, terdapat empat tolok-ukur yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

a. Kemampuan dan ketrampilan penyuluh untuk berkomu-nikasi
b. Pengetahuan penyuluh tentang inovasi yang (akan) disu-luhkan
c. Sikap penyuluh, baik terhadap inovasi, sasaran, dan pro-fesinya
d. Kesesuaian latar belakang sosial-budaya penyuluh dan sasaran

Selain faktor-faktor yang telah dikemukakan di atas, kecepatan adopsi juga sangat ditentukan oleh aktivitaas yang dilakukan penyuluh, khususnya tentang upaya yang dilakukan penyuluh untuk "mempromosikan" inovasinya. Semakin rajin penyuluhnya menawarkan inovasi, proses adopsi akan semakin cepat pula. Demikian juga, jika penyuluh mampu berkomunikasi secara efektif dan trampil menggunakan saluran komunikasi yang paling efektif, proses adopsi pasti akan berlangsung lebih cepat dibanding dengan yang lainnya.
Berkaitan dengan kemampuan penyuluh untuk berko-munikasi, perlu juga diperhatikan kemampuannya ber-emphaty, atau kemampuan untuk merasakan keadaan yang sedang dialami atau perasaan orang lain.
Kegagalan penyuluhan, seringkali disebabkan karena penyu-luh tidak mampu memahami apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkan oleh sasarannya.

3) Sumber informasi yang dimanfaatkan

Gologan yang inovatif, biasanya banyak meman-faatkan beragam sumber informasi, seperti: lembaga pendi-dikan/perguruan tinggi, lembaga penelitian, dinas-dinas yang terkait, media masa, tokoh-tokoh masyarakat (petani) setempat maupun dari luar, maupun lembaga-lembaga komersial (pedagang, dll).
Berbeda dengan golongan yang inovatif, golongan masyarakat yang kurang inovatif umumnya hanya memanfaatkan infor-masi dari tokoh-tokoh (petani) setempat, dan relatif sedikit memanfaat informasi dari media-masa.

3) Saluran komunikasi yang digunakan

Secara konseptual, pada dasarnya dikenal adanya tiga macam saluran atau media komunikasi, yaitu: saluran antar-pribadi (inter-personal), media masa (mass media), dan forum media yang dimaksudkan untuk menggabungkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh saluarn antar-pribadi dan media-masa.
Tentang hal ini, media masa biasanya lebih efektif dan lebih murah untuk mengenalkan inovasi pada tahap-tahap penya-daran dan menumbuhkan minat. Sebaliknya, media antar-pribadi biasanya lebih efektif untuk diterapkan pada tahapan yang lebih lanjut, sejak menumbuhkan minat sampai pada penerapannya. Berkenaan dengan itu, semakin banyak media yang digunakan oleh masyarakat, akan memberikan pengaruh yang semakin baik. Sebab, selain jumlah informassi menjadi lebih lengkap, biasanya juga lebih bermutu atau semakin memberikan kejelasan terhadap inovasi yang diterimanya.

Jika inovasi dapat dengan mudah dan jelas dapat disampaikan lewat media masa, atau sebaliknya jika kelompok sasarannya dapat dengan mudah menerima inovasi yang disampaikan melalui media masa, maka proses adopsi akan berlangsung relatif lebih cepat dibanding dengan inovasi yang harus disampaikan lewat media antar pribadi.
Sebaliknya, jika inovasi tersebut relatif sulit disampaikan lewat media masa atau sasarannya belum mampu (dapat) memanfaatkan media masa, inovasi yang disampaikan lewat media antar pribadi akan lebih cepat dapat diadopsi oleh masyarakat sasarannya.

4) Status Sosial-ekonomi Penerima atau Pengguna Inovasi

Rogers (1971) mengemukakan hipotesisnya bahwa setiap kelompok masyarakat terbagi menjadi 5 (lima) kelom-pok individu berdasarkan tingkat kecepatannya mengadopsi inovasi, yaitu:

• 2,5 % kelompok perintis (innovator),
• 13,5 % kelompok pelopor (early adopter),
• 34,0 % kelompok penganut dini (early mayority),
• 13,5 % kelompok penganut lambat (late majority),
• 2,5 % kelompok orang-orang kolot/naluri (laggard).

Sehubungan dengan ragam golongan masyarakat ditinjau dari kecepatannya mengadopsi inovasi, Lionberger (1960) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan seseorang untuk mengadopsi inovasi yang meliputi:

a. Luas usahatani, semakin luas biasanya semakin cepat mengadopsi, karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.

b. Tingkat pendapatan, seperti halnya tingkat luas usahatani, petani dengan tingkat pendapatan semakin tinggi biasanya akan semakin cepat mengadopsi inovasi.

c. Keberanian mengambil resiko, sebab, pada tahap awal bia-sanya tidak selalu berhasil seperti yang diharapkan.
Karena itu, individu yang memiliki keberanian mengha-dapi resiko biasanya lebih inovatif.

d. Umur, semakin tua (diatas 50 tahun), biasanya semakin lamban mengadopsi inovasi, dan cenderung hanya melak-sanakan kegiatan-kegiatan yang sudah biasa diterapkan oleh warga masyarakat setempat.

e. Tingkat partisipasinya dalam kelompok/organisasi di luar lingkungannya sendiri.
Warga masyarakat yang suka bergabung dengan orang-orang di luar sistem sosialnya sendiri, umumnya lebih inovatif dibanding mereka yang hanya melakukan kontak pribadi dengan warga masyarakat setempat.
f. Aktivitas mencari informasi dan ide-ide baru.
Golongan masyarakat yang aktif mencari informasi dan ide-ide baru, biasanya lebih inovatif dibanding orang-orang yang pasif apalagi yang selalu keptis (tidak percaya) terhadap sesuatu yang baru.

Selain itu, Dixon (1982) mengemukakan beberapa sifat individu yang sangat berperan dalam mempengaruhi kecepataan adopsi inovasi, yang berupa:

a. Prasangka inter personal
Adanya sifat kelompok masyarakat (terutama yang masih tertutup) untuk mencurigai setiap tindakan orang -orang yang berasal dan berada di luar sistem sosialnya, sering-kali berpengaruh terhadap kecepatan adopsi inovasi.
Karena itu, proses adopsi inovasi dapat dipercepat jika penyuluh dapat memanfaatkan tokoh-tokoh atau panutan masyarakat setempat. Sebab, di dalam masyarakat sasaran seperti ini, mereka akan cepaat mengadopsi inovasi yang disampaikan oleh orang-orang yang telah mereka kenal, dan pihak-pihak yang senasib dan sepenanggungan.

b. Pandangan terhadap kondisi lingkungannya yang terbatas
Foster (1965) dan Shanin (1973) dari hasil pengamatannya menyimpulkan bahwa, kecepatan adopsi inovasi sangat tergantung pada persepsi sasaran terhadap keadaan ling-kungan sosial di sekitarnya. Jelasnya, jika mereka keadaan masyarakat (sosial ekonomi, teknologi yang diterapkan) relatif seragam, mereka akan kurang terdorong untuk mengadopsi inovasi yang ditawarkan guna melakukan perubahan-perubahan. Sebaliknya, jika ada seseorang atau beberapa anggota masyarakat sasaran yang memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimilikinya, mereka akan cenderung berupaya keras untuk melakukan perubahan-perubahan demi tercapainya peningkatan atau perbaikan mutu hidup mereka sendiri dan masyarakatnya.

c. Sikap terhadap penguasa
Di dalam kehidupaan sehari-hari, sebenarnya terdapat dualisme tentang sikap masyarakat terhadap penguasanya. Di satu pihak, elit penguasa dinilai sebagai kelompok yang selalu meendominasi dan mengeksploitasi warga masyarakat pada umumnya, dan di pihak lain dinilai seba-gai pelindung dan kelompok yang memegang kekuasaan dan mampu memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.
Dualisme sikap terhadap penguasa seperti ini, jugaa berpengaruh kepada kecepatan adopsi inovasi, terutama jika kegiatan penyuluhannya selalu diikuti/didampingi atau dilaksanakaan sendiri oleh aparat pemerintah.
Sehingga kehadiran aparat penguasa kadang-kadang sa-ngat diperlukan, tetapi di pihak lain sering kali juga harus dihindarkan.

d. Sikap kekeluargaan
Sebagaimana juga telah dikemukakan pada Bab sebelum-nya, tidak ada satupun warga masyarakat sasaran yang mampu mengambil keputusan secara individual, tanpa mengikut sertakan keluarga atau kerabat dekatnya.
Oleh sebab itu, di dalam sistem sosial yang sikap keke-luargannya masih tebal, adopsi inovasi berlangsung relatif lambat, karena setiap pengambilan keputusan untuk mengadopsi selalu harus menunggu kesepakatan seluruh anggota keluarga atau kerabatnya. Dan ini relatif berbeda dengan masyarakat komersial yang individualistis, yang pada umumnya dapat mengambil keputusan sendiri untuk mengadopsi inovasi yang ditawarkan penyuluhnya.

e. Fatalisme
Fatalisme adalah suatu kondisi yang menunjukkan keti-dakmampuan seseorang untuk merencanakan masa depan-nya sendiri, sebagai akibat dari pengaruh faktor-faktor luar yang tidak mampu dikuasainya.
Kondisi seperti ini, umumnya dimiliki oleh masyarakat petani yang kehidupan maupun usahataninya relatif masih sangat tergantung kepada keadaan alam, dan atau diper-kuat lagi dengan sistem pemerintahan otoriter yang kurang memberikan kesempatan kepada masyarakatnya untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam kondisi fatalisme seperti itu, adopsi inovasi akan berlangsung sangat lam-ban, karena akan menghadapi resiko dan ketidakpastian yang sangat besar.

f. Kelemahan Aspirasi
Sebagai akibat lanjutan dari kondisi fatalisme adalah lemahnya aspirasi atau cita-cita untuk menikmati kehi-dupan yang lebih baik. Dalam kondisi seperti ini, sebagian besar masyarakat sasaran akan bersifat pasrah, dan cukup puas dengan apa yang dapat dinikmati tanpa adanya cita-cita dan harapan untuk dapat hidup yang lebih baik. Sehingga, setiap inovasi yang ditawarkan akan sangat lamban diadopsi.

g. Hanya berpikir untuk hari ini
Dengan lemahnya aspirasi yang disebabkan oleh fatalisme di atas, warga masyarakat yang bersangkutan tidak pernah berpikir tentang hari esok. Yang menyelimuti hati dan pikiran mereka hanyalah: bagaimana untuk bisaa hidup hari ini sepuas-puasnya, sedang hari esok tergantung kepada nasib.
Masyarakat seperti ini hanya berpandangan "quick yielding" yang cepat dapat dinikmati, dan akan sangat mengadopsi inovasi yang umumnya berupa investasi untuk mencapai tujuan perbaikan mutu hidup dalam jangka panjang.

h. Kosmopolitnes, yaitu tingkat hubungannya dengan "dunia luar" di luar sistem sosialnya sendiri.
Kosmopolitnes, dicirikan oleh frekuensi dan jarak perjalanan yang dilakukan, serta pemanfaatan media masaa.
Bagi warga masyarakat yang relatif lebih kosmopolit, adopsi inovasi dapat berlangsung lebih cepat. Tetapi, bagi yang lebih "localite" (tertutup, terkungkung di dalam sistem sosialnya sendiri, proses adopsi inovasi akan ber-langsung sangat lamban karena tidak adanya keinginan-keinginan baru untuk hidup lebih "baik" seperti yang telah dapat dinikmati oleh orang-orang lain di luar sistem sosialnya sendiri.

i. Kemampuan berpikir kritis, dalam arti kemampuan untuk menilai sesuatu keadaan (baik/buruk, pantas/tidak pantas, dll).
Akibatnya adalah, meskipun inovasi yang ditawarkan itu akan benar-benar dapat memberikaan peluang untuk meraih mutu hidup yang lebih baik, proses pengambilan keputusan untuk mengadopsi tetap juga berjalan lamban.

j. Tingkat kemajuan peradabannya
Kemajuan tingkat peradaban, akan sangat menentukan ragam dan mutu kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan oleh setiap individu dalam sistem sosial yang bersang-kutan (Lippit, 1958).
Karena itu, tingkat adopsi inovasi di dalam masyarakat yang lebih maju akaan relatif lebih cepat, karena setiap warga masyarakat terdorong untuk selalu ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang terus menerus mengalami perubahaan, baik dalam ragaam kebutuhannya maupun mutu yang diinginkannya.

3) Cara pengambilan keputusan
Terlepas dari ragam karakteristik individu dan masyarakat, cara pengambilan keputusan yang dilakukan untuk mengadopsi sesuatu inovasi juga akan mempengaruhi kecepatan adopsi. Tentang hal ini, jika keputusan adopsi dapat dilakukan secara pribadi (individual) relatif lebih cepat dibanding pengambilan keputusan berdasarkan keputusan bersama (kelompok) warga masyarakat yang lain, apalagi jika harus menunggu peraturan-peraturan tertentu (seperti: rekomendasi pemerintah/penguasa).

B. Pendekatan Pendidikan

Osgood (1953) melalui penjelasannya mengenai teori rangsangan dan tanggapan (stimulus-response theory), mengemukakan bahwa proses adopsi yang merupakan salah satu bentuk tanggapan atas rangsangan (inovasi) yang diterima, sangat tergantung kepada manfaat atau reward, yang dapat diharapkannya, sedang besarnya tanggapan tersebut tergantung kepada: besar atau jumlah manfaat, kecepatan waktu penerimaan manfaat, frekuensi penerimaan manfaat, dan besarnya energi atau korbanan yang dikeluarkan.


C. Pendekatan psiko-sosial

Secara psikologis, kegiatan yang dilakukan oleh sese-orang (untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu), dilatar belakangi oleh adanya motivasi, yaitu tekanan atau dorongan (yang berupa kebutuhan, keinginan, harapan dan atau tujuan-tujuan) yang menyebabkan sesoan melakukan kegiatan tersebut (Berelson and Steiner, 1967; Newman and Newman, 1979).
Pal (Dahama dan Bhatnagar, 1989) mengungkapkan adanya 9 motivasi petani untuk menerapkan suatu inovasi, antara lain adalah: motif ekonomi, motif belajar, motif aktualisasi diri, motif afiliasi dan motif untuk memperoleh kekuasaan di lingkungannya.

D. Pendekatan Sistem Agribisnis

Soeharjo (1991) mengemukakan bahwa, kegiatan usahatani merupakan salah satu sub-sistem agribisnis, yang terdiri dari: sub-sistem pengadaan dan penyaluran input, sub-sistem produksi, sub-sistem pasca panen dan pemasaran, dan sub-sistem pendukung yang terdiri dari beragam unsur pelayanan (permodalan, perijinan, dll).
Sehubungan dengan itu, Sinaga (1987) menegaskan bahwa analisis tentang penggunaan input di dalam sub-sistem pro-duksi usaha tani, harus dilihat sebagai salah satu mata rantai dari analisis-analisis permintaan input, analisis proses pro-duksi, dan analisis pemasaran produk.

Berdasarkan pendekatan ini, maka variabel-variabel yang perlu diperhatikan dalam proses adopsi adalah:

1) Kualitas pelayanan input, khususnya yang berkaitan de-ngan: pengadaan sarana produksi dan kredit.
2) Aplikasi dan supervisi dalam penggunaan input
3) Jaminan harga dan sistem pemasaran produk


E. Pendekatan Pengembangan Masyarakat

Dari “definisi baru” yang diberikan terhadap istilah penyuluhan pertanian (Bab 2) secara jelas dinyatakan bahwa tujuan akhir dari penyuluhan pertanian adalah untuk mewu-judkan masyarakat pertanian yang mandiri, profesional, dan berjiwa kewirausahaan.
Pemahaman seperti itu, membawa implikasi bahwa kesepatan adopsi inovasi yang diupayakan melalui kegiatan penyuluhan akan sangat ditentukan oleh:

1) Perilaku atau komitmen pimpinan wilayah selaku adminis-trator dan penanggungjawab pembangunan terhadap arti penting penyuluhan sebagai faktor penentu dan pelancar pembangunan.

2) Dukungan stakeholder yang lain yang memungkinkan masyarakat untuk dapat mengadopsi inovasi yang ditawar-kan, terutama lembaga kredit, dan pelaku bisnis pertanian yang lain.

3) Pemahaman masyarakat tentang pentingnya penyuluhan bagi percepatan pembangunan yang menuntut partisipasi masyarakat. 
daftar pustaka:
Dinas Kesehatan Prop.Jatim ,Buku Info Kesehatan Remaja, 2008.Dinkes Jatim
Levis, L. R. 1996. Komunikasi Penyuluhan Pedesaan. Citra Aditya Bakti. Bandung.
Nasution, Z. 2004. Komunikasi Pembangunan. Pengenalan Teori dan Penerapannya. Rajawali Pers. Jakarta.
Nurudin. 2005. Sistem Komunikasi Indonesia. Rajawali Pers. Jakarta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS